Promil bagi penderita PCO dan Teratozoospermia

Program Hamil PCO dan Teratozoospermia 
Awalnya saya ragu menulis cerita ini, tapi waktu saya hamil salah seorang teman menyarankan untuk menulis agar mungkin dapat berbagi cerita pada penderita PCO lain. Saya sendiri pun sebelum hamil selalu membaca kisah-kisah terkait penderita PCO dan sedih rasanya jika kisah tersebut belum berhasil. Sebaliknya jika kisah yang saya baca berhasil, saya ikut senang dan termotivasi untuk terus berusaha. Saya berharap kisah saya ini dapat memotivasi penderita PCO maupun Teratozoospermia untuk memiliki buah hati. 

Sebelum tahu tekena PCO, sejak pertama saya haid, memang saya termasuk jaraknya jauh lebih dari 28 hari rata-rata dan sering nyeri haid. tapi sejak saya kuliah jika saya makan sayuran dan berolahraga maka nyeri haid bulan berikutnya tidak terjadi. 
Kisah ini bermula saat saya akan menikah, haid saya sering terlambat hampir dua bulan. Saat itu saya sudah konsultasi dokter kandungan sekalian konsultasi pra nikah. Saat itu di USG semua baik-baik saja kata dokter dan bisa jadi haid saya terlambat karena menyiapkan pernikahan. Tapi hal ini terulang setelah menikah saya sempat telat haid hingga lebih dari 2 bulan, kemudian saya ke dokter kandungan di RSIA Sadewa Jogja bertemu dokter Ayu, saya tidak hanya di USG tapi juga di transvaginal. Beliau saat itu tidak menyebutkan masalah PCO dan karena saya juga belum program hamil, beliah hanya bilang telurnya kecil-kecil dan dibilang saya terlalu gendut sehingga saya harus diet. Saya diberi obat diminum sampai haid, jika tidak haid sampai obat habis saya harus kembali. Tapi haid sudah datang sebelum obat habis jadi saya tidak berobat lagi. Oh iya sebelum ke dokter Ayu saya sudah ke beberapa dokter di rumah sakit lain tapi mereka selalu menjawab saya stres dan kelelahan. Dan FYI saya memang gendut, TB saya 146 cm, BB saya biasanya 38 kg. Tapi saat itu BB saya mencapai 46 kg. 

Langsung ke intinya, saya pindah ke Lampung saat ingin program hamil. Setelah browsing sana sini kami memutuskan untuk memilih dokter Elysawati Shinta. Di USG, kandungan saya baik-baik saja namun setelah di USG Transvaginal dokternya langsung bilang saya PCO, telur saya kecil-kecil paling besar hanya berukuran 1,6 mm. Padahal menurut dokter sel telur yang bisa dibuahi itu besarnya minimal 1,8 mm. Jadi saya tahu PCO bulan November 2017 tapi saya mulai bener-bener progam hamil itu bulan Desember. 
Bulan Januari saya periksa dan disuruh balik lagi saat sedang haid. Mulai Januari saya sudah tidak makan junk food dan mie instan dan sesuai saran dokter berhubungan dua hari sekali satu minggu setelah haid. Kata dokter capek g capek harus. Bulan Januari tanggal 31 saya haid, ke dokter dan diberikan Blesifen yang diminun selama haid dan vitamin Glisodin diminum setiap hari selama satu bulan. Sedangkan suami saya diberi Ubiquinol diminum 1x1 setiap hari. Dan saya disuruh balik lagi seminggu setelah haid. 
Bulan Februari, tanggal 11, seminggu setelah haid, saya USG transvaginal lagi untuk melihat perkembangan telur saya setelah diberi obat. Di situ terlihat telur saya sudah ada yang besar tapi cuma satu,yang lain masih kecil-kecil. Saya sempet down tapi dokter bilang gpp toh kita hanya butuh 1 telur. Karena obat, Februari haid saya datang tepat waktu, yaitu tanggal 2, saya ke dokter lagi untuk diberi resep blesifen. Pokoknya saya diberi resep blesifen ini 3x haid (Haid 31 Januari- 5 Februari, Haid 2 Maret-7 Maret, dan Haid 2 April-7 April). 
Pada bulan April tanggal 2, dokter bilang ini terakhir resep blesifen karena tidak bisa diteruskan, maksimal diberikan sebanyak 3x dan kalau mau lagi harus menunggu beberapa waktu. Dokter bilang kalo ini belum berhasil saya disuruh untuk periksa saluran tuba dan periksa untuk suami. Bulan April ini juga suami tes dan positif teratozoospermia. Rasanya g karu-karuan deh saat itu. 
Mei tanggal 2 saya haid lagi tapi karena sudah tidak bisa ke dokter, maksud saya sudah tidak bisa minum blesifen lagi saya pasrah saja. Karena untuk periksa tuba saya belum siap dan masih fokus pada suami dulu. Sedih rasanya ketika haid datang, tapi untungnya suami selalu menenangkan, keluarga juga tidak mendesak untungnya. Pas bulan April itu saya sudah berserah diri pada Allah, seperti tidak melambungkan harapan namun saya tetap berolahraga dan makan sehat seperti biasanya. 
Juni tanggal 2, saya tidak haid, saya khawatir banget karena takut siklus haid saya berantakan lagi gara-gara tidak minum obat, saya tidak ada kepikiran hamil, karena saya sudah tidak terlalu optimis, saya masih berpikir keknya masih lama saya hamilnya. Tapi sejak awal puasa saya merasa suka tidak enak, suami suruh tes tapi saya takut. Takut hasilnya negatif. Saat mudik, saya merasa lelah sekali dan entah rasanya tidak enak, suami saya menyruh saya testpack dan positif remang-remang, saya coba test lagi saat pagi hari jelas tapi belum yakin, tanggal 11 Juni saya ke dokter, di USG positif 2-3 minggu.

Nah VoilĂ , Lahirlah baby boy tanggal 29 Januari. Babynya normal, selama kehamilan juga normal, karena saya merasa khawatir pas hamil, karena banyak baca PCO kalo hamil bayinya sering keguguran pada usia 8 minggu. Saya was-was banget, tapi dokter saya bilang, klo sperma sama sel telur bertemu dan sudah jadi, sudah ga ada itu hubungan dengan morfologi sperma yang jelek, semua akan baik-baik saja, berdoa.

Yang kami lakukan selama program hamil, selain mengkonsumi blesifen untuk saya selama haid, saya juga mengkonsumi Glisodin atas saran dokter. Dan untuk suami, dia minum Ubiquinol, tapi Cuma dijalankan selama 1 bulan saja. Bulan kedua suami cuma minum 10 hari saja. Kami tidak makan makanan berpengawet, karena kata dokter makanan berpengawet tidak bagus. Jadi tidak hanya menghentikan sejenis ayam KFC dan mie instan, tapi juga makanan kalengan juga minuman botol (kecuali air mineral) pokoknya coca-cola yang seger itu juga harus dilupakan. Jajan-jajan kesukaan saya kek Taro itu juga bye bye. Suami saya juga stop kopi, dia dulu perokok berat sih tapi saat program hamil, dia sudah dua tahun berhenti rokok. Karena stop minum Ubiquinol, suami saya ganti minum susu L-Men (saya lupa jenisnya) yang mengandung L-carnitine banyak pokoknya. Minum sehari dua kali. Juga minum habbatausauda sehari 2x, tiap minum 2 kapsul. 

Makanan sehari-hari, kami makan sayur setiap kali makan, dimasak cuma pake garam sama sesekali gula. Kami juga stop saus, kecap kadang-kadang saja. Dan selama program kami jarang beli makan atau jajan diluar belum tentu 1 bulan itu dua kali makan diluar karena kami khawatir mereka menggunakan bahan pengawet. Sayur kami, bayam, sawi hijau dan putih, kubis, buncis, wortel, kecambah, kacang panjang, labu siam. Itu aja sih yang sering  cuma dibolak balik aja biar g bosen. Tapi yang sering ya bayam.

Untuk jus, kami setiap malam minum jus campuran buah plum 1 dengan 2 tomat pake susu, kadang madu kadang gula. Siang dan sore kami minum jus jambu biji merah. Kami juga sering banget makan semangka karena kebetulan saya fans berat semangka. Kadang makan buah pear, mangga atau salak.

Suami juga ganti celana dalam dari yang segitiga itu ke celana boxer. Bagi yang mau ganti kan kadang susah ya harus ganti berarti harus beli dalam jumlah banyak sementara ne celana dalam harganya satu bisa 75 ribu, saran saya pergilah ke Ramayana, di sana bisa ada diskon 100 ribu dpat celana 3, atau 100ribu dpat 9 celana. Oh iya kami juga rutin berolah raga, karena saya males, saya Cuma olahraga sehari 30 menit aja, itu download aplikasi di playstore. Jadi BB saya turun jadi 44 kg selama program hamil. Tapi suami saya olahraganya pagi dan sore. Tapi klo kami sibuk biasanya malam tidak sore. 

Begitulah, semangat teman-teman PCO dan terato yang sedang program hamil. Saran sih carilah dokter yang baik dan sportif. 
Dr.Elysawati ini oke bgt, mau menjelaskan seperti guru menjelaskan pada murid, saya banyak nanya kadang ngeyel juga dokternya sampe marah heheh, tapi beliau mau menjawab dan tidak terkesan buru-buru. Saya pernah konsul sama beliau sampe 30 menit. Rekomen banget sama dokter ini bagi yang di Lampung. 

NB: Karena saya suka air kelapa, saya juga sering minum air kelapa selama program hamil, hampir setiap hari.

Saran terakhir, rileks santai saja yakin bahwa semua ada waktunya. Dan setiap berhubungan santai saja dibawa fun saja jangan terbebani anak-anak terus. Kalau capek usahan perbaiki mood dulu kalo sudah happy baru deh.


Ket foto:
Foto hitam putih itu foto telir saya saat belim diberi blesifen. Kecil-kecil telurnya.
Foto kedua, itu seminggu setelah saya haid saat saya baru satu kali diberi blesifen. Yang merah besar itu telur saya satu-satunya yang besar.

Komentar